Bernyanyi bersama Chika dan Moulvi

Wednesday, June 29, 2005

BIDADARI KECILKU

Sewaktu kami tinggal di Montreal, nggak banyak yang bisa diceritain tentang Chika. Kecuali, badannya yang tinggi berisi, suka dandan, pemalu dan nggak banyak omong (kalo dibandingin abangnya yang nggak pernah berhenti ngomong). Selalu nempel aku, sampe ada opini kalo pengen liat Chika asli ya ke apartemen kami, itupun dengan catatan jangan rame-rame. Keluargaku di Jakarta amat sangat penasaran dengan sosok Chika, karena waktu kami berangkat ke Montreal, dia masih kecil, dan nggak meninggalkan kenangan yang banyak kecuali tukang nangis sambil teriak karena takut orang.
Ketika kami pulang ke Indonesia tahun lalu, tidak ada seorangpun keluargaku yang dikenal Chika, tapi ajaib anak itu nggak butuh waktu lama untuk beradaptasi cuma 1 jam dirumah, dia langsung berinteraksi. Akhirnya kita sadar, kalo selama ini Chika bingung dengan banyaknya bahasa yang dia dapat. Di rumah, Indonesia, di sekolah, Perancis, di luar rumah, Inggris. Akhirnya dia memutuskan untuk lebih banyak diam, daripada salah ngomong.
Sekarang? Jangan ditanya, lebih sering suara Chika yang terdengar daripada suara Maulvi. Hobinya bertanya, nyanyi dan komentar.
Dulu, untuk membuat abang berhenti bertanya adalah dengan bertanya balik ke dia, tapi itu bukan jurus yang sama buat Chika, karena dia selalu punya jawaban. Dan Abbas tidak pernah bisa untuk bilang tidak, karena Chika selalu punya cara. Contohnya, waktu dia minta beliin baju, dia bilang,"Papa enggak pernah sayang aku, papa pengennya cuma pegang-pegang aku aja. Kalo papa sayang aku, beliin aku baju donk". Wah kalo itu kedengaran om Risun kan gawat, padahal kondisi sebenarnya, dia lagi dipijitin Abbas saat itu dan ada aku disana.
1 bulan yang lalu, dia bilang aku suka om Risun, teman papanya yang ganteng dan masih bujangan. tapi seminggu kemudian dia meralatnya, aku nggak boleh suka om Risun, soalnya aku masih kecil. Mama juga nggak boleh mencintai aku, karena cewek itu harusnya mencintai cowok, seperti mama dgn papa, mbah Akung dgn mbah Uti, tante Na dgn om Diki, kalo cewek mencintai cewek berdosa, jadi mama nggak boleh mencintai aku.
2 hari yang lalu, dia bilang, "aku lebih suka pangeran daripada cinderella, karena pangeran tanpa cinderella udah kaya, kalo cinderella nggak ada pangeran, miskin. My God. Padahal bulan depan dia baru mau ulang tahun ke-4!!!

Sunday, July 11, 2004

Pamit Sebentar Yah

Duh, kayaknya aku mau pamitan sebentar deh untuk ngeblog, menjawab coment yang masuk dan mengunjungi blog teman-teman. Pertama, aku sibuk ngepak barang-barang, maklum akhir bulan ini mau mudik. Yang kedua, ini yang apes, Jum'at kemarin apartemenku kebobolan. Padahal cuma aku tinggal jemput anak sekolah, waktu balik pintu darurat di kamarku udah jebol, langsung lemas deh, enggak banyak sih yang dibawa, laktop suami (istri keduanya) dan handycam, eh iya souvenirku buat Babe, jam tangan. Dongkol, takut, marah, sedih semuanya campur aduk jadi satu. Langsung kebayang muka suami yang waktu itu belum dateng, semua kerja dia 2 tahun terakhir ada laktopnya. Untung sebagian dia transfer ke email, tapi tetap aja ngurut dada. Apalagi ngeliat keadaan rumah yang super mess!!! Semua koperku dibongkar, isi lemari, laci bahkan tempat jepit rambut anakku dilempar keluar semua. My God, 2 jam aku cuma nangis aja. Alhamdulillah, enggak lama teman-teman dateng, ikutan bantu beres-beres, masak dinner buat anakku dan yang paling penting suport mereka ke aku yang enggak bakal aku lupain. Terima kasih buat semua, Dorita, kak Lena sekeluarga, Maknyak sekeluarga, Mas Ali dan kak Yayah, mas Rison juga teman-teman semua yang enggak bisa aku sebutin satu persatu. Tanpa suport kalian enggak mungkin aku bisa cepat ketawa lagi.

Saturday, June 26, 2004

Abang Takut.

3 hari yang lalu, Abang bilang, "Di Indonesia nanti, Abang enggak mau sekolah". Waktu kita tanya alasannya, dia bilang, "Abang mau jualan sticker Pokemon aja". Kita pikir itu cuma pikiran dia sesaat aja. Tapi yang ada, dia keukeuh enggak mau sekolah.
Menjelang tidur, aku tanya pelan-pelan. Kenapa Abang enggak mau sekolah? Aku bilang di sekolah dia bisa belajar baca dan bisa baca buku-buku favoritnya sendiri. Bisa belajar berhitung, punya teman banyak, pokoknya semua yang menarik tentang sekolah. Akhirnya keluar juga alasan dia enggak mau sekolah. "Abang takut enggak bisa bahasanya Mommy".
Aku jadi bengong dan kemudian berusaha menahan tawa, I have to respect him. Lanjutnya, Mommy ingat, waktu Abang masuk sekolah bu Maria (SSMU Daycare) Abang enggak bisa bahasanya, Abang nangis aja, enggak ada yang ngerti omongan Abang --SSMU Daycare pake bahasa Inggris.
Terus Abang pindah ke tk Metropolitan (daycarenya yang sekarang pake bahasa bilingual, tapi dominan Perancis), Abang juga enggak bisa bahasanya. Sekarang Abang udah ngerti dan udah punya teman, kalau Abang pindah ke TK Salman di Indonesia, Abang takut enggak bisa bahasanya lagi, enggak punya teman lagi, Abang takut Mommy.
Aku bilang kalau TK Salman pake bahasa Indonesia, bahasa seperti yang dia pake di rumah, untuk komunikasi dengan aku dan papanya. Aku juga bilang kalau dia udah punya teman di Indonesia, aku sebut nama-nama temannya yang ternyata masih dia ingat sebagian. Alhamdulillah, sekarang dia bilang udah mau sekolah. Pikirku untung juga aku tetap membiasakan bahasa Indonesia di rumah, sebagai bahasa sehari-hari.
Terkadang, kita memang suka mengabaikan feeling anak. Kita anggap mereka punya feeling yang sama, selera yang sama, bahkan pikiran yang sama dengan kita. Usut punya usut ternyata, Abang nguping/mencuri dengar percakapanku dengan papanya, kalau temannya, Rizki dan Linggar stress sekolah di Indonesia, karena mereka tidak bisa bahasa Indonesia. Wah ternyata kalau ngobrol mesti hati-hati nih.

Sunday, June 20, 2004

Twin

Waktu masih SMA dulu, aku selalu bilang, ih kayaknya enak deh punya anak kembar, laki dan perempuan, lucu dan capeknya sekalian. Tapi setelah kuliah, I changed my mind. Twin? no, argonya dobel boo....
Anak pertamaku lahir 28 April 2000 laki-laki, ganteng, sehat dan senang nyanyi dari bayi. Kita namai Maulvi Azmiwinata panggilannya Abang. Baru menikmati rasanya jadi parent, aku udah hamil lagi. Ceritanya waktu itu Maulvi mendadak kurus. Aku bawa ke dokter, tidak ada perubahan, akhirnya aku harus cek up juga ke dokter kandungan, dan dia bilang, "Nyonya, ada janin usia 18 minggu di rahim anda". Ahhhh aku dan suami kaget bareng. Padahal Maulvi baru berusia 10 bulan 2 minggu. My God!!!
Ada perasaan berdosa pada Maulvi, terutama aku masih pengen menyusuinya. Tapi apa mau dikata.
17 July 2001 lahir bayi perempuanku, kita kasih nama Rezika Afrinawinata, panggilan Chika atau Ade Ita. Dalam hati aku bilang, wah aku punya anak kembar, laki-laki dan perempuan persis seperti mimpiku. Benar aja, sekarang mereka mirip anak kembar, dengan usia yang tidak terpaut jauh, tinggi badan dan berat badan mereka hampir sama. Malah kayaknya lebih berat Chika. Dan benar argonya dobel!!!
Abang hobynya nyanyi, dengar musik dan main lego. Kadang takjub saya dengan hasil karyanya yang udah mulai mirip dengan apa yang dia bayangkan. Kemarin dia bikin kolam lengkap dengan air mancur dan patungnya. Abang juga cerewet, sibuk nanya dan enggak berhenti nanya. Kata-katanya suka bikin kita bengong dan ketawa. Kalau dia gelisah atau lagi hiperaktif kita putarin lagu atau kita ajak nyanyi, otomaticly dia calm down. Mungkin karena selama hamil saya selalu putarin lagu.
Chika, bidadari kecilku, agak pemalu, tapi lebih pengen tahu dan berani terhadap hal-hal yang baru dibanding Abang yang terkadang harus diyakinkan dulu terhadap hal yang baru. Chika centil, doyan dandan dan enggak gampang menyerah. Udah mulai cerewet dan banyak tanya.
Waktu baru pindah ke Montreal, aku benar-benar sibuk, ngurus mereka, masak, beresin rumah yang enggak pernah rapi, karena sedetik kemudian pasti berantakan lagi. Sekarang setelah mereka di Daycare, suka kangen juga ama ketawa dan celoteh mereka.
Terima kasih ya Allah, aku diberi kesempatan untuk mengasuh, mendidik, dan membesarkan anugrah-Mu.

Friday, June 18, 2004

It's Summer Time

Summer boo.....
Seneng banget, enggak usah pake jaket lagi, bisa bersandal ria lagi, summer picnic lagi, ah... pokoknya seneng banget. Itu minggu lalu waktu suhu masih 15-22 derajat. Sekarang rasanya panas banget, tidur dengan jendela terbuka. Siang di Montreal sampe jam 5 sore lagi, karena matahari baru terbenam jam 9 malam.
Pas winter nonton tv adegan summer, ngiler banget, sekarang nonton tv adegan turun snow kok rasanya ngeces sih. Anyway, kalo suruh milih yah pilih summer, mungkin karena aku lahir dan besar di negara tropis.
Tradisi summer, banyak teman yang pulang kampung. Tahun lalu aku juga ditinggal suami yang riset buat tesisnya selama sebulan. Duh rasanya itu summer enggak pernah abis. Ngurus 2 baby sendirian. Kalo 1 sakit, yah enggak bisa kemana-mana, bahkan belanja sekalipun harus menunggu kunjungan teman. Untung teman-teman ringan tangan semua.
Summer sekarang, Alhamdulillah tesis Abbas hampir selesai, so kita punya banyak waktu untuk jalan.

Thursday, June 03, 2004

Sakit

Kesal enggak sih, kalau lagi sakit malah dicuekin. Sabtu lalu aku bangun tidur dengan tangan sakit sebelah kanan. Awalnya aku pikir biasa aja, tapi sampe sore hari sakitnya enggak hilang, akhirnya bilang ke kak Abbas minta tolong diurut karena doi bisa juga ngurutin urat yang keseleo. Jawabannya, "kasih aja balsem, nanti juga sembuh". Dengan agak kecewa aku masuk kamar, eh malah Abang yang mijitin aku. Setelah 2 hari dicuekin rasa sakitnya hilang juga.
Hari Senin pagi aku udah mulai enggak enak badan, tapi tetap aku paksa masak dan beresin rumah. Malamnya udah enggak bisa diajak kompromi lagi. 3 kali bolak-balik ke kamar mandi. Terpaksa minta dikerokin ke suami. Jawabannya kali ini, "Tidur aja gih, nanti juga sembuh". Dongkol banget rasanya, malah Abang lagi yang bantuin pake minyak kayu putih. Dalam hati, awas yah yang namanya suami kalau sakit, bakalan aku cuekin.
Eh besoknya kejadian. Karena kehujanan abis jemput anak-anak, kak Abbas masuk angin. Dengan mengiba-iba dia bilang, "Tolong kerokin dong".
Jawabku, "Tidur aja, nanti juga sembuh sendiri".
Puas banget rasanya.

Sunday, May 30, 2004

Punya blog, akhirnya....

Waktu Bubah atawa Maknyak memproklamirkan blognya, aku juga kepengen punya. Ditambah lagi mbak Ning dan Dorita ikutan bikin juga, rasanya tambah gimana gitu. Ya udah aku pasang punya memelas ke Maknyak, "Ajarin dong". Jawaban Maknyak, "Aduh aku belum punya waktu nih". Maklum juga sih, aku aja yang punya anak 2 dan disini enggak sekolah atau kerja sering enggak punya waktu, habis untuk ngurus rumah, nganter sekolah, masak, juga ngerumpi, gimana Maknyak. Ya udah kayaknya mimpiku punya blog sebelum aku pulang ke Jakarta pelan-pelan hilang dari kepalaku.
Tapi dasar rezeki enggak ketuker, kira-kira seminggu yang lalu Maknyak telpon aku. "Rat, kamu sudah aku bikinin blog". Aku sampe bengong! Ternyata Maknyak lagi suntuk, akhirnya ngutak-ngatik, bikinin aku blog. Habis aku nutup telpon, aku loncat-loncat saking girangnya (my husband, Maulvi dan Chika jadi bengong). Makasih Maknyak, sering-sering aja suntuk.